Alhamdulillah... setelah sekian lama (hampir 1 tahun) tidak bisa dibuka karena laptop admin bermasalah, tepat pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1437 H bisa dikelola kembali. Terima kasih telah berkunjung ke halaman ini

Rabu, 02 Januari 2013

Kurikulum Baru, Guru Tidak Perlu Buat Silabus

"Tiada Kata Seindah Doa"

Setelah melakukan uji publik kurikulum 2013 dan menurut menteri pendidikan M.Nuh mendapatkan respon baik oleh masyarakat, maka kementerian pendidikan dan kebudayaan mulai mempersiapkan untuk pelatihan guru.


Untuk pelaksanaan pelatihan guru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mempersiapkan "master teacher" yang berasal dari berbagai kalangan termasuk guru-guru teladan dan juga guru-guru SD dari berbagai daerah yang sudah teruji baik negeri maupun swasta.

Terkait guru yang akan menjadi implementor perubahan kurikulum 2013 ini, Kemdikbud akan mempersiapkan guru dalam dua hal. Pertama guru saat mengajar dan kedua, persiapan guru sebelum mengajar.

Pada saat guru mengajar, dengan kurikulum baru ini guru-guru tidak lagi dibebani dengan berbagai hal yang dapat megganggu konsentrasi guru. Contohnya, guru tidak lagi dibebani membuat silabus seperti pada kurikulum KTSP.

Mendikbud Mohammad Nuh akhir pekan kemarin juga menyampaikan hal serupa, bahwa kewajiban guru membuat silabus akan membuat guru tambah "mumet". 

“Oleh karena itu, guru tidak usah mikir, kita kasih bukunya (buku babon), dilatih cara gunakan bukunya. Guru kita ajari konsepsi dan pendekatannya,” kata Mohammad Nuh. (Sumber: http://www.jpnn.com/).

12 komentar:

Gita Riksa mengatakan...

Permisi numpang komen.
Kabar baik dari Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Memang menjadi guru saat ini dituntut profesional, krna guru adalah sebuah profesi. Maka sdh sepatutnya guru lebih berkonsentrasi pada bidangnya. Dengan info yg diberikan Pak Menteri, saya pribadi menyambut dgn sangat gembira. Krn kita nanti tdak dipusingkan dengan membuat silabus, krn hal ini pada kenyataannya menyita banyak waktu.
Saya mendukung kebijakan Pak Menteri untuk mwningkatkan kwalitas pendidikan di Indonesia. Trims. Salam.
Sudibyo, Dati Kota Batu

Dariyanto (Totok) mengatakan...

@Sudibyo: Setuju banget

Anonim mengatakan...

iTU BARU BENAR! SECARA MAYORITAS GURU PUNYA BANYAK WAKTU UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN AKADEMIS DAN PAEDAGOGIKNYA DI KELAS. HAK ANAK DIDIK UNTUK MENDAPAT PERHATIAN LEBIH DARI GURUNYA SEMAKIN DAPAT TERPENUHI! WAKTU TIDAK HABIS UNTUK BERKUTAT DENGAN SILABUS SAJA!SELAMAT BEKERJA PAK MENTR!KAMI AKAN SELALU MENDUKUNG!SELAMAT TAHUN BARU 2013!

Anonim mengatakan...

katanya profesional apa hubungannya dengan jumlah jam mengajar, berapa jam dia mengajar serahkan saja pada sekolah yang bersangkutan aku yakin sekolah akan membagi jam pelajaran sesuai dengan pakta keadilan dan kepatutan,jadi tak ada guru yang sudah profesional tak dapat dana profesional asumsi aku setiap sekolah guru2 mengajar min 18 jampel.apalagi yg katanya kurikulum 2013 jangan lah diembeli lagi harus mengajar 24 jam pel minimal,munkin kurang dari 18 jampel bolehlah dipertimbangkan

Anonim mengatakan...

Memanbg tidak perlu guru disuruh membuat silabus karena selama inipun kebanyakan guru hanya mencopy, lalu mengubah sedikit dari yang ada diinternet atau pada buku-buku yang dijual di pasar. Membuat yang asli dari gurupun sia-sia karena buku paket, LKS sudah tinggal beli, sedangkan untuk membuatnya rumut dan mahal. Paling baik kayak dulu saja, hanya ada penerbit TIGA SERANGKAI yang bukunya dipakai diseluruh Indonesia.

Anonim mengatakan...

PERSETAN DENGAN KURIKULUM PENDIDIKAN INDONESIA.......BOLAK BALIK GANTI TERUS.......BERKARAKTER LAH......TOH...UJUNG ...UJUNG NYA....KORUPTER TETAP LAHIR TERUS........YG SALAH DI MANA.......

Anonim mengatakan...

bikin guru jadi malas, tidak kritis, bagaimana menghasilkan murid yang kritis. WASPADA!!! BERKESAN PEMAKSAAN DITERAPKAN >>CURIGA MOTIF KORUPSI mau 2014 gitu loh. anak gua jangan dijadiin kelinci, anak MENTRI pada sekolah ga di INDO di LONDON, DLL DAMN!!

Anonim mengatakan...

menyambut baik ide pak menteri,tapi pelaksaannya di tingkat sekolah/madrasah tetap aja dibebani segudang permasalahan yg terkadang tidak nyambung.
seharusnya sebelum diimplemtasikan harus mengarti dan memahami seluruhnya dari kementerian sampai ke pengawas sekolah,kepala sekolah dan seluruh elemen yg terkait dengan pendidikan.
bila tidak tetap saja guru dan siswa yg jadi korban kebijakan.
dari dulu juga gitu ......!!!!!

Anonim mengatakan...

administrasi pembelajaran memang menjadi beban bagi kami,namun persiapan mengajar juga penting ,sebab tanpa persiapan tujuan pembelajaran tidak jelas,namun yang lebih penting adalah mendidik

Anonim mengatakan...

Pak Mentri,saya sebagai guru sangat berteri kasih dengan adanya silabus yang sudah disediakan pada kurikulum 2013, dan akan lebih berterima kasih lagi andai Pak Menteri bisa menyediakan sampai RPP, apalagi sebagai guru SD tentu saya sangat terbebani dengan harus membuat RPP tiap hari minimal tiga mata pelajaran, waktu saya banyak terbuang hanya untuk membuat RPP, mana waktu kami untuk membuat alat praga, waktu belajar mengenai materi yang akan diajarkan, melakukan remedi, pengayaan, dll. Kalau guru masih terlalu dibebani banyak administrasi, waktu guru tidak banyak untuk membimbing siswa, tentu saja siswa kurang terdidik, smoga Pak Menteri bisa mempertimbangkan

AZIS SYAHRUL mengatakan...

Jika hanya menghapus silabus yang hanya 5 - 25 halaman, rasanya tidak akan mengurangi beban guru. Saya setuju dengan komentar sebelumnya. Misalnya RPP, dalam 1 semester minimal membuat 15 - 28 buah yang per RPP mencapai 3 halaman. Kita tidak mungkin tidak membuat pemetaan kalender pendidikan, hari efektik/tak efektif, pemetaan materi pelajaran/diklat dalam 1 tahun, program tahunan, program semester dan uraian KKM. Saya sudah membuat kelengkapannya untuk tahun pelajaran baru msh KTSP sebanyak 80 halaman. Jika dikurangi silabus 25 halaman, tetap masih banyak = 55 halaman. Itu belum semua RPP dicantumkan. Makanya jika RPP dibuat di awal tahun untuk 2 semester bisa-bisa 230 halaman termasuk silabus. Tapi memang tetap berat, sebab RPP walaupun tidak dibuat di awal, namun ada keharusan membuatnya minimal sehari sebelum masuk kelas. Dalam setahun RPP yang dibuat antara 30 - 55 RPP atau 90 - 165 halaman. Inilah sudah resikonya menjadi guru. Semangat semua !!!

Anonim mengatakan...

guru jadi MALAS GABUT DAN SANGAT TDK BERGUNA SEDIKIT SEDIKIT EKSPERIMEN HABIS GITU TUGAS BANYAK SEKALI BESOK ULANGAN GIMANA PINTARNYA ? KALAU MURID SE INDONESIA DI SURUH VOTING KAMI AKAN MEMILIH KTSP SEBAGAI KURIKULUM DARIPADA KURIKULUM 'BULLSHIT' 2013

Posting Komentar

Jika tidak mempunyai account,
pada comment as silahkan pilih Anonymous
Mohon dengan bahasa yang sopan.
Terima Kasih.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls